Apartemen Green Pramuka City Ditargetkan Rampung 2-3 Tahun Lagi

Hoopiz.com – Sebagai developer apartemen Green Pramuka City, PT Paramindo Sejahtera (DPS) menargetkan pembangunan sejumlah 17 tower bisa selesai dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Seorang Manajer Pemasaran bernama Andreas C.Y mengatakan, bahwa pembangunan 1-4 tower bernama Faggio, Chrysan, Bougenville, dan Pino selesai sejak 2014.

Semua unitnya sudah terserap ke dalam pasar. Bahkan saat ini sudah dalam koridor proses serah-terima.

“Terdapat komposisi untuk pembeli senilai 80% pemakai, sementara sisanya untuk investor,” kata Andreas pada wartawan Bisnis ketika di sela-sela agenda temu media hari Kamis tanggal 23 April 2015.

green pramuka city 7

Jika wawancara di atas terjadi pada tahun 2015, berarti jika dihitung dari tahun 2018 ini maka 2020-2021 akan terjadi pada 2 sampai 3 tahun lagi. Di tahun 2015, perusahaan menargetkan bahwa pembangunan tower 5-8 bernama Penelope, Orchid, Nerine, dan Scarlet selesai. Sementara itu, proses serah-terimanya akan dilangsungkan sepanjang tahun 2016. Menurutnya, tower sejumlah 5-7 sudah terserap ke dalam pasar sekitar 95%.

Sementara untuk tower terakhir baru terjual sekitar 30% sejak awal tahun 2015 ketika diluncurkan. Pada bulan Agustus-nya, perusahaan akan menyusulkan pembangunan tower 9.

“Kami memiliki target bahwa pendapatan perusahaan akan meningkat 35% pada tahun ini,” kata Andreas. Tapi, dia sendiri enggan membeberkan angka pendapatan saat ini.

Kata Andreas, setiap tower memiliki sekitar 750-1000 unit kamar. Terdapat 2 tipe yang ditawarkan oleh perusahaan, yakni studio dengan luas 21 m2 dan juga 2 kamar seluas 33 m2. Per unitnya dilabeli dengan haga sekitar 550 juta Rupiah. Angkat tersebut meningkat, soalnya saat pertama kali diluncurkan tahun 2010, harga per unitnya 200 juta Rupiah.

Hal tersebut membawa angin segar untuk perusahaan. Potensi investasinya per tipe 2 kamar tidur bisa mencapai 40 juta hingga 45 juta Rupiah per tahunnya. Kalau semua tower 1-4 selesai dibangun, penghuninya dikirakan bertambah dari 7.000 KK menjadi 13.500 KK atau 27.000 orang.

“Jumlah yang cukup besar itu tentunya menjadikan target pasar sangat menggiurkan untuk para pengusaha. Kami juga melengkapi kawasan Green Pramuka City dengan area penunjang bisnis. Katakanlah seperti kantor cabang perbankan, restoran, kafe, pusat medis, maupun daily store,” terang Andreas kemudian.

Joko Sumariyanto, selaku Manajer Penjualan Green Pramuka City juga menambahkan bahwa kawasan titik temu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur telah memiliki lahan seluas 12,9 hektare. Untuk pembangunan jalan, drainase, taman, dan berbagai fasilitas lainnya dianggarkan lahan seluas 10,3 hektare atau 80% dari keseluruhan lahan.

Sementara untuk 20%-nya digunakan untuk pembangunan tower.

“Lahan ini adalah milik PT Angkasa Pura 1. Dalam rangka mengurangi angka backlog sesuai program dari pemerintah, kami telah menyediakan kebutuhan papan dengan lahan BUMN yang menarget segmen menengah ke bawah,” katanya.

Langkah tersebut diadakan karena persentasenya senilai 60% untuk backlog pada segmen menengah ke bawah. Ia berpendapat, bahwa perusahaan juga memiliki komitmen dalam mendukung kebijakan program pemerintah DKI Jakarta dalam hal penyediaan hunian vertikal layak pakai dengan harga terjangkau.

Green Pramuka City pernah menyabet penghargaan dari pemprov DKI Jakarta pada tahun 2014 untuk kategori Konsep Rusunami Terpadu dan Terbaik. Sejak tahun 2011, Duta Paramindo Sejahtera sangat aktif menggalang aksi tanggung jawab sosial dengan menganggarkan beasiswa SD-SMA sekitar Green Pramuka City untuk 500 murid.

Saat itu, perusahaan juga menambah kegiatan dengan merangkul Smile Train Indonesia yang merupakan organisasi di bawah WHO. Organisasi ini berjalan khusus untuk membantu penderita bibir sumbing. Manajer Program STI, Deasy Larasati mengatakan, bahwa banyak dari penderita bibir sumbing yang memiliki kendala informasi dan biaya.

Dengan adanya kerja sama tersebut, tentu diharapkan bisa menjangkau lebih banyak lagi penderita bibir sumbing di seluruh Indonesia.

“Semua proses pengobatannya gratis, tapi masih banyak yang rupanya belum tahu. Dengan adanya kerja sama Green Pramuka dan rekan media, tentu diharapkan informasi ini bisa semakin luas,” tuturnya.